Terlalu Sering Makan Sayur Mentah Ternyata Tidak Baik

Mengonsumsi sayuran mentah seperti lalap, karedok, lotek ataupun salad, merupakan hal lazim bagi orang Indonesia. Selain lezat, sebagian besar orang menganggapnya lebih menyehatkan.

Hal itu dibuktikan oleh Turono Pujakesuma yang videonya viral di instagram. Dalam unggahannya, Turono yang juga Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu Polres Pesarawan, Lampung, memperlihatkan dirinya menyantap makan siang berupa aneka sayur dalam keadaan mentah.

Dihubungi Kompas.com, ia mengaku sangat gemar mengonsumsi segala jenis sayuran mentah. Mulai dari daun-daunan seperti daun mengkudu dan daun kencur, pun wortel.

Tak ketinggalan jengkol dan petai lengkap dengan kulit luarnya, sampai yang rasanya pahit macam daun pepaya dan pare. Seluruhnya ia lahap dalam keadaan segar, sebagai menu harian.

Benarkah sayuran mentah lebih menyehatkan? Seberapa sehat?

Anggapan bahwa sayuran mentah lebih menyehatkan dimulai sejak tahun 1800-an. Itu sama sekali tak salah karena sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi jenis sayuran apapun pada dasarnya sangat baik bagi kesehatan.

Terlebih pada sayuran mentah, nutrisi yang terkandung di dalamnya masih lengkap.

“Bagus jadi semua nutrisi masuk dalam tubuh dan nggak kebuang saat dimasak,” ucap Dr. dr. Samuel Oetoro MS.SpGK.(K).

Akan tetapi, dr. Samuel beserta para ahli lainnya juga mengingatkan bukan berarti semua sayuran baik dikonsumsi dalam keadaan mentah. Lagipula, rutin mengonsumsi sayuran mentah bisa berisiko bagi kesehatan.

“Terlalu sering makan sayuran mentah bisa terjadi kelemahan dalam enzim pencernaan,” kata dr. Samuel.

Penyebabnya, urai dia, karena proses kerja saluran cerna jadi lebih berat saat mencerna sayur mentah. Ini bisa berujung pada defisiensi enzim B12.

Kekurangan vitamin B12, tulis Healthline, berisiko meningkatkan erosi gigi dan massa tulang yang rendah.

Dalam satu penelitian, 70 persen perempuan yang rutin mengonsumsi sayur mentah juga ditemukan mengalami ketidakteraturan siklus menstruasi, bahkan mengalami amenorrhea atau penghentian total menstruasi karena berat badan rendah.

Di luar kebiasaan rutin, para ahli sepakat bahwa ada dua hal yang membuat konsumsi sayuran mentah jadi kurang bermanfaat.

Pertama, mengutip Scientific American, kita tidak pernah tahu apakah selama proses penanaman dan pertumbuhannya, sayuran itu terpapar zat-zat kimia seperti pestisida atau tidak, kecuali menanam sendiri. Bahkan sayuran organik sekalipun.

Kedua, beberapa jenis sayuran justru baik dimakan setelah mengalami proses pemasakan.

“Contoh sayuran yang sebaiknya mentah adalah yang mengandung vitamin C (brokoli, paprika), senyawa fitokimia anti kanker (bawang merah), dan polifenol (bayam),” kata Ahli gizi dari Universitas Gadjah Mada, Perdana Samekto T.S., Msc, RD dilansir Kompas.com.

Beberapa penelitian memang telah mengungkap bahwa brokoli mentah lebih kaya enzim myrosinase yang berfungsi melawan kanker.

Kepada Health, ahli diet terdaftar Dawn Jackson Blatner juga menerangkan bahwa sayuran tinggi vitamin C seperti paprika lebih baik dimakan mentah, karena vitamin C mudah larut dalam air dan berpotensi rusak saat dimasak.

Selain itu, tambah ahli diet Amy Keating dalam Consumer Reports, memasak bayam bisa memecah asam oksalat dalam jumlah besar yang secara alami terdapat dalam warna hijaunya. Akibatnya, tubuh jadi tidak bisa menyerap semua zat besi dan kalsium dalam bayam.

Sementara sayuran yang dianjurkan untuk dimasak terlebih dahulu, sambung Perdana, adalah sayuran yang mengandung beta-karoten (pro-vitamin A) seperti wortel, dan antioksidan likopen semisal tomat.

“Sebaiknya dimasak agar senyawa-senyawa ini bisa dilepaskan oleh dinding sel dan lebih banyak yang diserap tubuh,” ujar Perdana.

Amy Keating menerangkan bahwa wortel masak bisa meningkatkan konsentrasi karotenoid pelawan kanker sebanyak 14 persen dibanding yang mentah.

Hebatnya lagi, kata dia, memasak tomat agak lama seperti ketika Anda membuat sup atau menjadikannya saus, bisa membuat tubuh menyerap likopen sampai 35 persen. Likopen adalah fitokimia yang mampu mengurangi risiko penyakit jantung dan kanker.

Proses pemasakan, papar Perdana, akan memberikan panas yang mengubah sayuran tertentu menjadi lebih mudah dicerna. Dengan begitu, manfaat dari zat-zat bioaktif yang bermanfaat untuk tubuh bisa lebih banyak terserap.

Ia pun menegaskan bahwa memasak atau memanaskan sayur juga bisa meluruhkan kandungan pestisida.

“Sayur itu biasanya supaya dia bagus dia menggunakan pestisida,” tambah Dr. Fiastuti Witjaksono, SpGk.

Menurutnya, mengonsumsi sayuran mentah tidak masalah selama rasanya cocok di lidah dan terjaga keamanannya. “Jadi cucinya harus benar-benar. Yang kita hindari itu pestisidanya,” imbuhnya.

Agar aman dikonsumsi, sayuran mentah yang baru dibeli harus langsung dicuci agak lama di bawah air mengalir menggunakan baskom saringan. “Jangan direndam di baskom,” pesan dr. Verawati S. SpGK. Selain tidak bersih, merendam terlalu lama bisa menghilangkan nutrisi dalam sayur.

Lebih baik lagi jika disikat. Sebabnya, pestisida bukan hanya memapar permukaan, tapi juga terserap ke bagian dalam sayuran mentah.

Selain itu, sayuran mentah sebaiknya dipotong besar-besar atau biarkan berbentuk utuh agar tak berkurang nutrisinya.

Terakhir, saran dr. Samuel, “Makan itu yang seimbang jangan terlalu ekstrem. Makan sayur mentah boleh tapi diatur aja jangan raw food semua, misalnya ada juga yang dimasak.”

sumber: kaskus