Menjadi Ibu Peri Bukan Berarti Memanjakan Anak

Kadang kita ‘terjebak’ dalam dua posisi; memanjakan anak atau bersikap sedikit ‘galak’ agar anak disiplin.

Beberapa puluh tahun yang lalu, disiplin erat kaitannya dengan hukuman. Orangtua yang disiplin seringkali diartikan sebagai orangtua yang sering menghukum. Banyak orangtua percaya bahwa hukuman yang konsisten bisa membentuk anak menjadi disiplin. Bersyukur, dengan semakin maraknya kampanye tentang pola asuh dan semakin mudah orangtua mengakses informasi tentang pola asuh, perlahan kecenderungan tersebut bergeser menuju arah yang lebih baik.

Disiplin adalah hasil proses pembelajaran: Kumpulan dari pengalaman dalam mengamati, mencerna, dan menirukan suatu perilaku dengan aturan dan tata laksana tertentu. Seorang filsuf dan tokoh psikolog, John Locke, mengajak kita memahami bahwa anak lahir dalam bersih, pengalaman lah yang akan menjadikannya manusia dengan karakter tertentu dimasa depan. Jadi, disiplin tidak dibawa sejak lahir. Dilain sisi, pandangan tersebut juga mengajak kita untuk memberi contoh kedisiplinan sejak dini.

Disiplin dilatih sejak bayi

Kedisiplinan dapat dicontohkan dan dilatih sejak bayi baru dilahirkan. Langkah awal memulai latihan kedisiplinan adalah kenali tugas perkembangan anak sesuai dengan usianya. Kemudian, tentukan perilaku yang diharapkan terbentuk. Pilih perilaku yang memiliki pengaruh yang besar dikehidupan anak sekarang dan masa depannya. Selanjutnya, pilih setting pelatihan yang mungkin dilakukan orangtua secara konsisten. Jika orangtua berhalangan bersama anak sepanjang waktu maka sebelum menentukan setting pelatihan, tentukan pengasuh/caregiver yang bisa konsisten menjalankan pelatihan untuk anak.

Pada kesempatan ini kita akan membicarakan salah satu kegiatan yang dapat dijadikan sarana latihan disiplin bagi bayi, yaitu tidur. Beberapa orangtua bertanya bagaimana membuat tidur bayi teratur. Jika diubah ke bentuk pertanyaan lain, maka pertanyaan tersebut dapat berbunyi “Bagaimana mendisiplinkan jam tidur bayiku?”

Waktu tidur bayi sangat baik untuk dijadikan latihan awal karena dapat diterapkan pada bayi sehat manapun, mempengaruhi kerja otak dan perkembangan bayi, serta memiliki efek jangka panjang bagi bayi dan orangtua. Yang diperlukan hanya konsistensi atau bahasa sehari-harinya adalah “tega”. Bayi yang baru lahir belum kenal dengan ritme tidur, tugas orangtua lah mengatur dan mendisiplinkan waktu tidurnya. Tentukan waktu “malam” yang sesuai untuk keluarga anda, kita ambil contoh jam 19.00.

Ketika jam 19.00 tiba, pastikan semua aktivitas bermain sudah selesai dan letakkan bayi di tempat tidurnya, berikan cahaya redup, nyalakan musik lembut, bacakan cerita, bacakan doa tidur, dan dampingi hingga ia tertidur. Hingga waktu pagi menjelang, pastikan bayi tetap ada diarea tidurnya. Jika perlu melakukan kegiatan bersih popok atau menyusui, sebaiknya dilakukan dengan cepat diarea tidur dengan setting cahaya yang sama dengan setting cahaya tidur. Lakukan hal ini secara terus menerus dan tepat waktu, maka tanpa disadari setiap jam 19.00 bayi anda sudah tidur.

Perilaku disiplin lain yang dapat dilatihkan sejak dini adalah membuang sampah pada tempatnya. “Klise” kelihatannya, tapi coba amati sekitar kita. Lebih banyak anak yang membuang sampah bekas makananya sendiri ke tong sampah atau lebih banyak anak yang memberikan sampah bekas makanannya ke pengasuhnya?

Perilaku disiplin yang sederhana dan berdampak besar bagi lingkungan hidup ini juga dapat terbentuk dengan proses pemaparan contoh secara konsisten. Jika ingin anak disiplin membuang sampah pada tempatnya, maka orangtua dan pengasuh sebaiknya mencontohkan perilaku tersebut secara konsisten sejak anak mulai bisa mengamati sekitarnya dan memberikan kesempatan pada anak untuk membuang sampahnya sendiri sejak anak bisa berjalan dan memahami instruksi.

Yang sering kali dipertanyakan oleh orangtua adalah bagaimana melatih supaya anak bisa berdisiplin mengatur jam nonton film atau bermain games.

Untuk pengaturan yang satu ini, orangtua sering kali bingung kapan waktu yang baik untuk berperan sebagai “ibu tiri” yang malarang anaknya menonton film/bermain games dan kapan berperan sebagai “ibu peri” yang memperkenankan anaknya menonton film/bermain games. Jawaban yang paling tepat dikembalikan lagi ke langkah-langkah pembentukan disiplin.

Jika pertanyaan ini muncul disaat anak berusia 9 tahun maka perilaku yang diharapkan muncul dapat berupa kesedian mengulangi pelajaran di sekolah. Selanjutnya orangtua dapat membuat jadwal kegiatan harian bagi anak dan menerapkannya. Jika anak memilih bermain games ipad daripada bermain bersama teman-temannya saat jam menunjukkan pukul 19.00 yang seharusnya dijadikan waktu review pelajaran, maka orangtua berhak untuk menyimpan ipadnya sementara waktu dan mengajak membaca buku catatan atau mengerjakan ulang latihan yang diberikan disekolah.

Apa yang sebaiknya dilakukan orangtua jika anak menangis meraung-raung saat ipad tidak diberikan? Orangtua diharapkan mengingat kembali tujuan awal latihan disiplin ini. Kenapa waktu bermain ipad diatur? Kenapa orangtua berpendapat bahwa waktu malam hari anak lebih baik dimanfaatkan untuk review pelajaran? Jika demikian, orangtua akan merasa bahwa ia berperan sebagai “ibu peri” saat ia tetap teguh menahan ipad anak dan mengarahkannya untuk berlatih tugas sekolah walaupun pada saat yang bersamaan anak menangis meraung-raung meminta ipadnya.

Lalu bagaimana dengan kasus “Monday to Friday Discipline Rules”?

Pada beberapa anak ditemukan kecenderungan bahwa anak sangat disiplin beraktivitas belajar, bermain, dan beribadah dihari senin-jumat namun “libur disiplin” diakhir pekan. Beberapa profesional menduga hal ini disebabkan karena pola konsistensi yang salah diperkenalkan ke anak. Artinya, orangtua atau pengasuh konsisten dengan perilaku disiplin dihari senin-jumat namun cenderung memberikan kebebasan berlebihan dihari sabtu dan minggu. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai hal yang salah satunya adalah kecenderungan menganggap akhir pekan adalah hari keluarga dan “Ibu Peri” selalu memberikan apa yang anaknya inginkan.

Berikut adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga konsistensi dispilin dan mengindari kecenderungan tersebut:

  1. Kenali tugas perkembangan anak di usianya
  2. Diskusikan dengan pasangan family value yang ingin dipupuk di keluarga.
  3. Tentukan perilaku positif yang ingin dilatih bersama anak dan kenali alasan kuat memilih perilaku tersebut untuk dilatihkan
  4. Tanyakan kesediaan pasangan, pengasuh lain (pengasuh, nenek, kakek, atau kerabat lain jika pengasuhan dilakukan bersama kerabat) untuk berlatih bersama-sama
  5. Lakukan secara konsisten setiap hari dan setiap saat.
  6. Jika ada perubahan setting pelatihan contohnya saat liburan diluar kota atau saat orangtua/pengasuh sakit, tentukan sarana pelatihan lain yang memungkin tanpa mengurangi atau melanggar tujuan awal. Sebagai contoh, jika sudah terbiasa review pelajaran jam 19.00 maka hari sabtu / minggu, jam 19.00 tetap digunakan untuk kegiatan yang bernuansa akademis seperti membaca atau bercerita tentang kegiatan disekolah.
  7. Lakukan review secara berkala dengan pasangan atau pengasuh lain yang memiliki tujuan yang sama dengan anda. Hal ini perlu dilakukan untuk mengevaluasi proses pelatihan disiplin yang anda lakukan bersama anak. Hasil observasi orang lain bisa melengkapi observasi yang anda terhadap perkembangan anak.
  8. Tentukan perilaku disiplin selanjutnya ketika anak sudah secara otomatis melakukan perilaku disiplin yang anda latihkan sebelumnya.

Berlatih disiplin sangat menyenangkan ketika kita paham tujuannya. Disiplin tidak lagi perlu menggunakan kekerasan fisik. Untuk berlatih disiplin yang diperlukan adalah kekerasan ketetapan hati untuk menuliskan karakter-karakter positif pada anak kita yang lahir dengan kondisi murni dan bersih.