Mengenal Merkuri dan Bahayanya Bagi Pertumbuhan Anak

Merkuri atau dikenal juga sebagai air raksa (Hg) adalah satu satu logam yang berbentuk cair dalam suhu kamar dengan warna keperakan, tidak berbau dan mengilap. Merkuri banyak ditemukan di alam sebagai bahan senyawa organik dan anorganik.

Merkuri mudah ditemukan dan digunakan dalam berbagai keperluan. Bahan seperti cat tembok, baterai, mainan anak, plastik dan konsmetik dapat mengandung merkuri.

Merkuri juga dilepaskan ke udara dari pembangkit listrik, pabrik semen, dan pabrik kimia tertentu. Merkuri banyak pula dipakai pada penambangan emas tradisional di berbagai lokasi penambangan Indonesia.

Ketika Merkuri mengendap di air, bakteri akan mengubahnya menjadi methylmercury. Methylmercury akan mengendap dan terikat pada protein ikan yang hidup di perairan tersebut dan akan tetap ada meskipun ikan sudah dimasak. Ikan predator mengandung merkuri lebih banyak, karena sifat merkuri yang mengendap dan mengumpul, tidak dapat dikeluarkan.

Sebagai logam berat, merkuri dan turunannya bersifat toksik terhadap makhluk hidup. Sifatnya tersimpan dan terakumulasi secara permanen dalam tubuh, menjadi inhibisi enzim dan merusak sel. Methylmercury dapat melintasi sawar darah plasenta dan masuk dalam peredaran darah janin.

Bisa dibayangkan bila hal ini terjadi pada janin, maka pertumbuhannya dapat terganggu akibat ada kerusakan sel. Menteri Kesehatan menyampaikan bahwa dampak kesehatan akibat merkuri dapat bersifat akut maupun kronik, antara lain berupa kerusakan sistem syaraf pusat, kerusakan ginjal dan paru-paru, pajanan pada janin bayi yang dapat menimbulkan cacat mental, buta, serta cerebral palsy.

Dan paparan methylmercury dalam jumlah tinggi selama kehamilan dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang otak dan sistem saraf janin. Kemampuan kognitif (seperti memori dan perhatian), bahasa, keterampilan motorik dan penglihatan akan terpengaruh. Sedangkan konsumsi dalam jumlah sedikit secara terus menerus ditengarai menyebabkan autisme bayi.

Pada anak, konsumsi merkuri secara teratur dapat menyebabkan kelainan saraf. Gejala yang dapat timbul antara lain kehilangan koordinasi, sulit berjalan, kaku sendi, hinga cerebral palsy. Cerebral palsy berkaitan dengan terjadinya kejang, kesulitan bicara, melihat dan bernafas. Kasus Minamata di Jepang tahun 1958, menyebabkan ratusan orang meninggal dengan gejala kelumpuhan saraf akibat kebiasaan mengonsumsi ikan yang tercemar merkuri. Hal ini seharus dapat menjadi pembelajaran bagi kita.

US Enviromental Agency merekomendasikan pembatasan konsumsi  seafood  sebesar 170 gram per minggu sebagai upaya menghindari dampak merkuri pada kesehatan. Sementara,Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia masih mentolerir konsumsi ikan hingga maksimal 1,8 kg per minggu per orang selama ambang batas merkuri tidak lebih dari 162 ppb.