Hati-Hati Memberi Anak Jus, Ini Efek Buruknya!

Orangtua yang terlalu kekinian lebih senang memberi anak mereka jus ketimbang buah karena sudah dikemas dengan praktis dan dinilai memiliki nilai gizi lebih baik. Hasilnya? Anak memang senang, tapi apakah jus yang diebrikan itu sehat?

Sebuah laporan tahun 2017 yang diterbitkan oleh American Academy of Pediatrics (AAP) memperingatkan orang tua dan pengasuh tentang potensi efek samping jus buah yang negatif. AAP sangat tidak memberikan rekomendasi untuk konsumsi jus buah pada bayi, anak-anak dan remaja.

Memangnya Kenapa? Bukankah Jus Itu Sehat?

Laporan AAP mencatat bahwa mengkonsumsi jus buah dalam jumlah besar dapat menyebabkan ketidakseimbangan energi, nutrisi berlebih atau kekurangan gizi, perut kembung, distensi perut, kerusakan gigi hingga diare.

AAP mengatakan bahwa bayi berusia 6 bulan atau lebih muda tidak boleh minum jus apapun. Memberi ASI adalah pilihan terbaik untuk memberikan asupan gizi kepada bayi sampai usia 6 bulan. Satu-satunya pengecualian adalah jika Bunda tidak bisa atau memilih untuk tidak menyusui.

Lalu, apakah jus itu sehat untuk anak-anak yang berusia di atas 6 bulan? Jawabannya Tidak Juga! AAP merekomendasikan bayi harus menghindari semua jus di usia satu tahun pertama.

Bahkan, AAP hanya merekomendasikan tidak lebih dari 4 ons jus buah per hari untuk anak-anak usia 4 sampai 6 tahun. Untuk anak usia 7 sampai 18 tahun, asupan harian yang disarankan seharusnya tidak lebih dari 8 ons.

Bagaimana dengan jus kemasan di supermarket?

Ograinasai Makanan dan Obat-obatan Internasional (Food and Drug Administration) mewajibkan label “jus buah” untuk jus kemasan yang 100 persen terbuat dari buah tanpa campuran apapun. Jika jus dilarutkan dari konsentrat, harus diberi label yang berbeda. Setiap minuman yang tidak 100 persen jus buah harus mencantumkan persentase produk yang berasal dari jus buah asli.

Produsen jus kemasan juga harus mencantumkan angka pemanis tambahan, rasa dan juga fortifiers (misalnya, vitamin C atau kalsium) pada label kemasan.

Lalu, Jus Yang Bagaimana Yang Dianggap Baik?

Meskipun buah utuh dianggap sebagai alternatif yang lebih sehat daripada jus buah dalam hal manfaat gula dan nutrisi, jika Bunda memilih untuk minum atau memberi anak Bunda jus, ada pilihan yang lebih sehat untuk dipilih.

Jus delima dan jus sayuran. Dalam sebuah studi UCLA, para ilmuwan menemukan bahwa jus delima memiliki kapasitas antioksidan 20 persen lebih banyak dibandingkan dengan buah lain, karena jus buah delima sangat kaya akan polifenol dan senyawa kaya manfaat lainnya, pastilah ini jus yang bisa dinikmati dalam jumlah kecil dari waktu ke waktu.

Jus Demila sangat bermanfaat untuk membantu melawan kanker, menurunkan hipertensi, meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi osteoarthritis, meningkatkan daya ingat dan melawan peradangan.

Sementara jus sayuran bisa membantu untuk mengurangi jumlah gula dalam minuman. Jus wortel adalah pilihan jus sayuran yang populer. Jus wortel telah dikaitkan dengan kesehatan mata yang lebih baik, penurunan risiko penyakit jantung dan stroke, meningkatkan kesehatan kulit dan penyembuhan luka dan kesehatan otak dan fungsi kognitif yang lebih baik.

Jadi, Apakah Jus itu Sehat Untuk Anak-anak?

Berbagai macam jus buah dalam jumlah yang sesuai untuk usia anak-anak tidak akan menyebabkan gejala yang signifikan. Jus buah,bagaimanapun tidak lebih bermanfaat daripada buah dalam bentuk yang utuh, karena buah mengandung serat yang lebih sehat dan memungkinkan anak-anak untuk perlahan mengkonsumsi kalori dan gula, bukan dengan cepat menelannya ke dalam tubuh.

Jika Bunda sesekali memberikan jus kepada si kecil, cobalah jus delima, jus buah antioksidan dan jus berbasis sayuran. Hati-hati dengan produk jus yang tidak dipasteurisasi yang mungkin mengandung patogen.