Antibiotik Terbaik Untuk Diare

Pemberian antibiotik untuk diare tidak bisa sembarangan. Diperlukan pemeriksaan oleh tenaga medis profesional agar penggunannya tepat sasaran, karena diare itu sendiri sebagian besar disebabkan oleh virus, dan sebagain lainnya oleh bakteri, parasit, dan jamur. Sedangkan antibiotik hanya bekerja untuk diare akibat bakteri.

Jangan anggap remeh diare! Penyakit dengan gejala BAB encer atau mencret ini bisa membahayakan nyawa ketika cairan tubuh banyak yang hilang. Terlebih ketika gejalanya disertai dengan muntah (muntaber) yang menyulitkan pemberian asupan cairan pengganti secara oral.

Ingat! masalah utama yang membahayakan saat terkena diare adalah dehidrasi. Oleh sebab itu, penanganan utamanya adalah asupan cairan dan elektrolit untuk mengganti cairan tubuh yang hilang.

Sementara itu, mengidentifikasi penyebab dan mengobatinya sesuai penyebabnya juga tak kalah penting. Untungnya, pada sebagian besar kasus, diare disebabkan oleh virus yang tidak memerlukan obat khusus untuk membasminya, virus akan hilang sendiri setelah beberapa hari. Asalkan asupan cairan penderita harus terpenuhi dengan baik.

Beda halnya pada kasus diare akibat bakteri, maka diperlukan obat khusus berupa antibiotik agar proses penyembuhan berjalan lebih cepat. Meskipun pada beberapa kasus diare bakteri dapat sembuh sendiri tanpa antibiotik.

Apa beda diare virus dan bakteri?

Secara umum, keduanya dapat menyebabkan mencret dan muntah, dalam istilah masyarakat kita dikenal sebagai muntaber. Meskipun terkadang hanya mencret atau muntah saja. Gejala lain yang dapat menyertainya seperti demam dan kram perut.

Diare akibat infeksi virus umumnya juga disertai dengan gejala demam, kelelahan, sakit kepala, dan nyeri otot. Diare ini biasanya sembuh dalam kurun waktu satu minggu.

Sedangkan apabila feses berdarah, maka penyebabnya cenderung bukan akibat virus, melainkan lebih mungkin akibat bakteri. Infeksi bakteri umumnya juga menyebabkan sakit perut yang parah dan dapat bertahan selama beberapa minggu.

Jenis bakteri tertentu juga memiliki mekanisme yang berbeda dalam menyebabkan diare, seperti dijelaskan di bawah ini:

  • Enterotoksin merupakan racun yang diproduksi oleh spesies bakteri tertentu (misalnya, Vibrio cholerae, C. difficile, dan E. coli ) saat melekat pada permukaan mukosa usus tanpa menginvasi. Racun yang dihasilkan bakteri tersebut menganggu penyerapan usus dan menyebabkan sekresi elektrolit dan air dengan merangsang siklase adenilat, yang menyebabkan diare berair.
  • Eksotoksin merupakan racun yang terdapat dalam makanan terkontaminasi. Diproduksi oleh beberapa bakteri (misalnya, Staphylococcus aureus, Bacillus cereus , Clostridium perfringens). Racun bakteri ini umumnya menyebabkan mual akut, muntah, dan diare dalam waktu 12 jam setelah menelan makanan yang terkontaminasi. Gejala mereda dalam waktu 36 jam.
  • Invasi mukosa terjadi akibat bakteri lain (misalnya, Shigella, Salmonella, Campylobacter, C. difficile, beberapa subtipe Escherichia coli ) yang menyerang mukosa usus kecil atau besar dan menyebabkan ulserasi mikroskopis (luka-luka kecil), perdarahan, eksudasi cairan kaya protein, dan sekresi elektrolit dan air. Diare yang dihasilkan mengandung leukosit dan sel darah merah dan kadang-kadang darah kotor.

Saat Anda mencurigai mengalami diare bakteri, maka sangat dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter. Dokter lebih dapat memastikan penyebabnya serta memberikan antibiotik yang tepat untuk diare yang Anda alami.

Sebaliknya, apabila penyebabnya adalah virus, maka antibiotik sama sekali tidak diperlukan. Bahkan apabila dipaksakan malah akan menimbulkan masalah baru pada sistem pencernaan, seperti sembelit atau diare yang tak berkesudahan.