6 Alasan Dibalik Perliaku Anak Selalu Berbuat Nakal

Selalu ada alasan di balik perilaku anak. Daripada menghukum perilaku buruk tersebut, carilah alasan di baliknya. Ingat, menghukum suatu perilaku buruk dapat menghentikannya saat itu saja, tetapi tidak menyelesaikan masalah sesungguhnya.

Berikut adalah alasan-alasan yang paling umum di balik perilaku ‘nakal’ anak, dan juga tips cara menghadapinya.

1. Mencari perhatian

Semua anak butuh perhatian, tetapi seringkali kita mengabaikannya, atau bahkan marah dan frustasi saat anak memintanya. Berada di ruang yang sama dengannya bukan berarti Anda sudah memberi perhatian. Jika Anda ‘memperhatikannya’ hanya ketika ia berperilaku buruk, ia akan terus melakukannya. Sebaliknya, jika Anda memberikan perhatian yang positif dan penuh kasih sayang, ia tidak akan berulah untuk mendapatkan perhatian Anda.

Cobalah:

  • Dengarkanlah perkataan anak dengan proaktif. Saat anak berbicara, hentikan apa yang sedang Anda lakukan, tatap matanya, dan dengarkan dengan sungguh-sungguh. Jika Anda sedang sibuk, berkatalah, “Bunda penasaran sama cerita kamu. Kasih Bunda 5 menit ya, Bunda akan mendengarkan cerita kamu.”
  • Berikan tanggapan yang sungguh-sungguh dan detail saat anak berperilaku baik, bukan sekedar memberi pujian, atau berlebihan. Misalnya, ucapkan “Terima kasih sudah bersabar menunggu Bunda selesai mencuci piring. Bunda tahu kamu pingin kasih liat gambar buatanmu.”, daripada sekedar berkata “Kamu pintar ya, bisa menunggu Bunda.”
  • Jika Anda mengasuh kakak beradik, mereka kemungkinan besar akan bertengkar hanya untuk mendapatkan perhatian Anda. Sebisa mungkin, sediakan waktu ‘kencan’ dengan masing-masing anak. Tidak perlu waktu yang panjang, tetapi luangkan waktu untuk bermain dengan satu anak saja setiap hari, sehingga tidak satupun dari mereka yang merasa terbuang.

2. Berkembangnya kemandirian dan regulasi diri anak

Semakin besar bayi Anda, semakin ia sadar bahwa ia adalah individu yang terpisah dari Anda. Mereka ingin memilih baju apa yang dipakai, atau tidak mau pulang dari playground. Anak menjadi semakin sering tantrum, dan tidak mau menurut. Ini adalah fenomena wajar yang berarti kemandiriannya berkembang dengan baik.

Cobalah:

  • Tahu kapan Anda harus ‘mengalah’. Memangnya kenapa jika si kecil ingin pakai kostum Elsa saat ia tidur? Apakah ada masalah jika ia ngotot minta minum dari gelas warna kuning hari ini? Memang betul orangtualah yang seharusnya menjadi pemegang wewenang/pengambil keputusan. Tetapi Anda tidak perlu mengurusi hal-hal yang sepele seperti ini, bukan? Biarkan anak menguji kemandirian mereka dengan mengambil keputusan sendiri untuk hal-hal sepele. Biarkan saat ini menjadi masa pelatihan untuknya, agar bisa mengambil keputusan yang lebih besar di kemudian hari.
  • Bersikap tegas terhadap perilaku yang tidak diizinkan. Sementara Anda mengizinkan anak membuat keputusan untuk hal sepele, Anda harus tetap tegas di saat anak berperilaku tidak benar. Tidak perlu adu kuat, atau memulai perdebatan dan negosiasi. Sebagai orangtua, ambillah tindakan yang tegas. Jika Anda meminta anak merapikan mainan berulang kali, tetapi ia tidak menurut, katakan dengan tegas, “Kamu boleh menonton TV hanya jika mainan ini sudah kamu bereskan.

3. Pengaruh lingkungan luar

Jika balita Anda mulai sering bicara kasar atau berperilaku agresif, cermati kembali apakah ini disebabkan oleh acara TV yang ia tonton, atau hubungan pertemanan yang kurang sehat. Monitorlah kembali aktivitas kesehariannya, musik/lagu yang didengarnya, juga apa yang setiap hari ditontonnya. Perhatikan kembali ke pergaulannya dengan teman-teman sebaya.

Cobalah:

  • Paham bahwa perilaku meniru adalah fenomena yang normal. Yang terpenting adalah teguh berpegang pada prinsip dan nilai hidup keluarga Anda.┬áIngat bahwa Andalah yang harus menjadi panutan utama, karena anak meniru perilaku dan nada bicara orang dewasa seperti spons.
  • Minimalisir keterpaparan anak terhadap pengaruh buruk. Tentu saja orangtua tidak bisa mengontrol segalanya, apalagi jika anak sudah masuk sekolah. Tetapi tetaplah tanggung jawab orangtua untuk melindungi dan mengantisipasi pengaruh-pengaruh buruk sebisa mungkin. Jika Anda curiga ada teman yang berpengaruh buruk kepada anak Anda, batasilah frekuensi playdate bersama anak tersebut. Atau lebih baik, Anda yang mengundang teman tersebut dan menjadi tuan rumah playdate, sehingga Anda bisa lebih mudah mengawasinya bermain.
  • Buang kata-kata yang menyakitkan. Ajarkan anak untuk mengekspresikan diri dengan cara yang lebih baik. Misalnya, Anda bisa berkata, “Adik pasti sedih kalau kamu menyebutnya ‘bodoh’. Kata-kata seperti itu tidak Bunda izinkan di rumah kita. Kalau kamu kesal pada adik, kamu boleh bilang kepadanya, tetapi jangan mengejeknya.”

4. Kurangnya kelekatan

Kelekatan (attachment) adalah hal yang sangat mempengaruhi hubungan orangtua dan anak. Jika tidak stabil, anak cenderung berperilaku buruk

Cobalah:

  • Ekspresikan rasa kasih sayang Anda dengan kata-kata dan tindakan. Buatlah anak merasa dicintai. Tataplah matanya saat berbicara. Berempatilah. Berikan pelukan setiap hari. Pasti akan sangat membantu untuk memperbaiki kedekatan Anda dengan si kecil.
  • Luangkan waktu untuk bermain bersama. Singkirkan HP Anda dan fokuslah bermain dengan anak, meskipun hanya sebentar saja. Biarkan anak yang memimpin permainan, dan bermainlah dengan antusias.
  • Carilah alasan untuk tertawa bersama. Anda bisa menonton film komedi, bersenda gurau, berdandan dan mengenakan kostum yang konyol, dll. Kegembiraan akan menguatkan ikatan kebersamaan antara setiap anggota keluarga, dan mampu meluruhkan emosi-emosi negatif yang sedang kita pendam.

5. Kemampuan anak belum matang

Seringkali kita hanya melihat perilaku buruk anak saja, tanpa menyadari bahwa ini bisa terjadi semata-mata hanya karena anak belum terampil! Anak yang tantrum mungkin frustasi karena ia belum bisa mengutarakan keinginannya dengan kata-kata. Mungkin anak tidak mau mengerjakan PR matematikanya, bukan karena ia membangkang, tetapi karena ia merasa kesulitan. Karena itu, tugas orangtua adalah tentunya dengan mengajarkan ketrampilan-ketrampilan tersebut, supaya anak bisa lebih baik.

Cobalah:

  • Binalah emosinya. Latihlah anak untuk berkomunikasi dengan positif agar ia bisa mengekspresikan emosi diri dengan lebih baik. Ajarkan juga cara mengendalikan emosi, agar ia lebih tenang saat menghadapi perasaan-perasaan negatif.
  • Jika anak tidak mau mengerjakan suatu tugas meskipun Anda tahu sebenarnya ia bisa, cermatilah apakah ia merasa tidak mampu, tidak percaya diri, perfeksionis, atau banyak tekanan. Beritahukan kepadanya bahwa tidak apa-apa gagal dan membuat kesalahan. Proses dan usaha jauh lebih penting daripada kesempurnaan.

6. Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi

Rasa lapar, lelah, bosan, kurangnya aktivitas fisik, dan kurang nutrisi, sebetulnya bisa menjadi alasan dari perilaku buruk anak. Sebetulnya, faktor ini bisa kita hindari dan antisipasi. Jika terjadi, ekspresikan empati Anda, dan penuhilah kebutuhan anak sesegera mungkin.

Cobalah:

  • Selalu sedia camilan bergizi setiap saat. Masukkan makanan ringan ke dalam tas Anda saat keluar rumah bersama anak. Pastikan anak cukup tidur.
  • Rutinitas yang konsisten. Jika keseharian anak cenderung teratur, anak akan tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya, dan dengan sendirinya, tantrum akan berkurang, dan perilaku buruk pun berkurang juga. Misalnya, mengerjakan PR dulu, baru boleh menonton TV. Jika secara konsisten dilakukan setiap hari, ia akan dengan sendirinya paham, bahwa ia baru bisa menonton TV hanya jika PR-nya sudah selesai, dan ia tidak akan berusaha tawar-menawar dengan Anda perihal aturan ini. Anda bisa membuat poster sendiri di rumah, yang menggambarkan aktivitas rutin anak sehari-hari misalnya, dan bisa Anda gantung di depan kamarnya.
  • Siapkan waktu ‘bosan’. Banyak anak yang sebetulnya kewalahan dengan aktivitas yang padat dan di luar kapasitasnya. Ini sangat mempengaruhi tingkat stres, lelahnya fisik, dan mengarah ke perilaku yang kurang baik. Cermatilah kembali keseharian anak, dan biarkan ia memiliki waktu ‘bosan’ sejenak untuk mengisi ulang kembali energi dan pikirannya.